sesuatu yang dulu saya ragukan

saya dulu pernah ragu

ragu bahwa sehabis menikah seorang istri akan benar-benar membuat rumah tangga menjadi prioritas utamanya tanpa mengingat mimpi-mimpinya lagi

ragu bahwa sehabis menikah istri secara sungguh-sungguh hanya ingin membuat suami ridho kepadanya

ragu bahwa keinginan memiliki anak setelah menikah adalah doa dan harapan yang akan menjadi anugerah terbesar dan penantian paling berharga sepanjang pernikahan. saya sesungguhnya tidak ragu, saya ingin sekali memiliki anak, tapi saya tidak pernah tahu bahwa perjuangannya akan se-luar biasa ini.

setidaknya selama seminggu terakhir saya seperti ditampar dengan keraguan-keraguan yang pernah saya alami ketika masih kuliah S2.. terutama setelah baru saja saya mengalami keguguran di kehamilan pertama saya kemarin Kamis malam.. malam Jumat, waktu dimana biasanya saya banyak berdoa dengan suami saya.

satu cobaan tersebut kemudian seperti membangunkan saya dari tidur panjang..

saya, kini hanya ingin ridho suami saya. setiap malam sebelum tidur kini saya menanyakan ridhonya terhadap saya..

saya, kini yakin bahwa menjadikan rumah tangga ini prioritas bukan lagi pilihan, namun kewajiban.. saya dan suami memang bekerjasama dalam membangunnya, namun kodrat suami dan kodrat istri semestinya tetaplah pada tempatnya. sesederhana kenyataan bahwa sampai kapanpun, suami saya hanya akan semangat memakan bekal makan siang buatan saya, bukan buatannya sendiri. kini di tengah kondisi saya yang sangat lemah, saya bahkan tidak sanggup membuat bekal makan siang untuknya. dan dia, dia berkata dia tidak akan lapar karena dia hanya lapar ketika melihat bekal makan siang buatan saya. sama seperti saya, yang kalau malam hari akan susah tidur kalau suami saya tidak memijat pundak saya.

saya, kini yakin bahwa anak tidak akan bisa tergantikan dengan apapun. saya masih sering menangisi kepergian calon buah hati saya. saya kadang ingin menyalahkan diri saya sendiri. namun beberapa teman dan dokter berkata bahwa keguguran ini memang genetik, sehingga memang sulit untuk dipertahankan. saya dilarang keras menyalahkan diri saya sendiri karena akan membawa trauma untuk kehamilan selanjutnya. selalu saja ingin berkata “seandainya..” namun Allah melarangnya.. jika memang sudah qadarullah.. maka saya harus menerimanya.

teruntuk suami..

saya tahu bahwa kesedihan ini membuat saya sering menangis di depannya. saya mungkin tidak sadar, kesedihannya mungkin sama dengan kesedihan saya. saya mungkin sering minta dikuatkan, namun dia sebenarnya juga butuh untuk dikuatkan. seperti yang pernah saya pelajari dari kisah orangtua adek Adam Fabumi, Ratih berkata kepada Ludi mengenai hal serupa.

jikalau aku diberi kesempatan untuk memilih pasangan hidup lagi, aku akan balik ke Mas Niko lagi, apapun kondisinya. terimakasih Mas Niko, imam terbaikku.

saya tidak bisa menghitung berapa banyak pengorbanan Mas Niko untuk saya terutama selama 2 minggu terakhir sejak saya mulai lemas dan sejak kehamilan saya mulai bermasalah.

ketika jam-jam belajarnya berganti dengan jam-jam memasak dan merawat saya.

ketika paper penelitiannya berganti dengan tumpukan kertas usg, surat asuransi, diagnosis dokter, hingga resep obat dan tagihan rumah sakit.

ketika sholat dan mengajinya di ruang sholat kini terasa sepi karena saya tidak bersamanya dan hanya berbaring di tempat tidur

Allah tahu yang terbaik bagi kami, itu yang selalu Mas Niko ajarkan kepada saya. Dan dibalik kesedihan ini, saya sangat bersyukur kepada Allah karena saya kini tidak meragukan lagi kuasaNya, tidak meragukan lagi tentang posisi saya sebagai istri, tidak meragukan lagi prioritas-prioritas saya. dan kini, saya merasa bahwa rezeki saya jauh lebih banyak daripada cobaan saya. terimakasih ya Allah. Engkau masih sayang pada kami.

“ikhlas ya dek”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s