sesuatu yang dulu saya ragukan

saya dulu pernah ragu

ragu bahwa sehabis menikah seorang istri akan benar-benar membuat rumah tangga menjadi prioritas utamanya tanpa mengingat mimpi-mimpinya lagi

ragu bahwa sehabis menikah istri secara sungguh-sungguh hanya ingin membuat suami ridho kepadanya

ragu bahwa keinginan memiliki anak setelah menikah adalah doa dan harapan yang akan menjadi anugerah terbesar dan penantian paling berharga sepanjang pernikahan. saya sesungguhnya tidak ragu, saya ingin sekali memiliki anak, tapi saya tidak pernah tahu bahwa perjuangannya akan se-luar biasa ini.

setidaknya selama seminggu terakhir saya seperti ditampar dengan keraguan-keraguan yang pernah saya alami ketika masih kuliah S2.. terutama setelah baru saja saya mengalami keguguran di kehamilan pertama saya kemarin Kamis malam.. malam Jumat, waktu dimana biasanya saya banyak berdoa dengan suami saya.

satu cobaan tersebut kemudian seperti membangunkan saya dari tidur panjang..

saya, kini hanya ingin ridho suami saya. setiap malam sebelum tidur kini saya menanyakan ridhonya terhadap saya..

saya, kini yakin bahwa menjadikan rumah tangga ini prioritas bukan lagi pilihan, namun kewajiban.. saya dan suami memang bekerjasama dalam membangunnya, namun kodrat suami dan kodrat istri semestinya tetaplah pada tempatnya. sesederhana kenyataan bahwa sampai kapanpun, suami saya hanya akan semangat memakan bekal makan siang buatan saya, bukan buatannya sendiri. kini di tengah kondisi saya yang sangat lemah, saya bahkan tidak sanggup membuat bekal makan siang untuknya. dan dia, dia berkata dia tidak akan lapar karena dia hanya lapar ketika melihat bekal makan siang buatan saya. sama seperti saya, yang kalau malam hari akan susah tidur kalau suami saya tidak memijat pundak saya.

saya, kini yakin bahwa anak tidak akan bisa tergantikan dengan apapun. saya masih sering menangisi kepergian calon buah hati saya. saya kadang ingin menyalahkan diri saya sendiri. namun beberapa teman dan dokter berkata bahwa keguguran ini memang genetik, sehingga memang sulit untuk dipertahankan. saya dilarang keras menyalahkan diri saya sendiri karena akan membawa trauma untuk kehamilan selanjutnya. selalu saja ingin berkata “seandainya..” namun Allah melarangnya.. jika memang sudah qadarullah.. maka saya harus menerimanya.

teruntuk suami..

saya tahu bahwa kesedihan ini membuat saya sering menangis di depannya. saya mungkin tidak sadar, kesedihannya mungkin sama dengan kesedihan saya. saya mungkin sering minta dikuatkan, namun dia sebenarnya juga butuh untuk dikuatkan. seperti yang pernah saya pelajari dari kisah orangtua adek Adam Fabumi, Ratih berkata kepada Ludi mengenai hal serupa.

jikalau aku diberi kesempatan untuk memilih pasangan hidup lagi, aku akan balik ke Mas Niko lagi, apapun kondisinya. terimakasih Mas Niko, imam terbaikku.

saya tidak bisa menghitung berapa banyak pengorbanan Mas Niko untuk saya terutama selama 2 minggu terakhir sejak saya mulai lemas dan sejak kehamilan saya mulai bermasalah.

ketika jam-jam belajarnya berganti dengan jam-jam memasak dan merawat saya.

ketika paper penelitiannya berganti dengan tumpukan kertas usg, surat asuransi, diagnosis dokter, hingga resep obat dan tagihan rumah sakit.

ketika sholat dan mengajinya di ruang sholat kini terasa sepi karena saya tidak bersamanya dan hanya berbaring di tempat tidur

Allah tahu yang terbaik bagi kami, itu yang selalu Mas Niko ajarkan kepada saya. Dan dibalik kesedihan ini, saya sangat bersyukur kepada Allah karena saya kini tidak meragukan lagi kuasaNya, tidak meragukan lagi tentang posisi saya sebagai istri, tidak meragukan lagi prioritas-prioritas saya. dan kini, saya merasa bahwa rezeki saya jauh lebih banyak daripada cobaan saya. terimakasih ya Allah. Engkau masih sayang pada kami.

“ikhlas ya dek”

Advertisements

Niko Prasetyo

Setahun yang lalu saya baru saja pulang dari konferensi di Afrika Selatan..

Dan kini saya sedang menanti residence permit serta visa D dari Kedutaan Besar Austria..

Hidup itu penuh sekali dengan skenario yang tidak terduga. Setahun terakhir banyak sekali hadiah dari Allah dan semesta untuk saya. Kali ini saya ingin berbagi tentang kisah yang insya Allah akan terus menjadi pengingat saya, bahwa saya hidup atas berkah dan skenario yang indah dari Allah. Untuk menjadi pengingat bagi saya, bahwa ada berbagai hal yang memang tidak bisa dijelaskan secara scientific, namun selalu bisa membuat kita menyadari bahwa ada berbagai cara dari Allah dalam menjawab doa-doa kita.

Sekilas cerita-Kemantapan untuk studi doktoral sepulang dari Afrika Selatan tahun lalu

Diantara semua konferensi internasional yang saya hadiri, konferensi asosiasi urban planner sedunia tahun 2016 lalu menjadi titik balik saya dalam melihat “ranah” saya secara lebih jelas. Semua mimpi mulai saya catat dengan lebih jelas. “Saya mau jadi dosen dan peneliti. Saya mau membuat banyak kolaborasi. Saya mau mengajak mahasiswa saya nanti terjun langsung ke masyarakat, dan saya mau itu terjadi hanya dalam rentang 5 tahun ke depan.” Sepulang dari Afrika saya sangat bertenaga dan semangat sekali mengerjakan tesis S2 saya di Chiba University dan The University of Tokyo. Dan di tengah kesibukan, saya kadang masih menyisipkan doa “Ya Allah, semoga saya segera menemukan jodoh saya. Jodoh yang bisa menggenapkan saya dunia akhirat.”

-Memang, sepeninggal almarhum bapak yang berpesan tentang menyegerakan menikah jika sudah siap dan menunda S3 jika jodoh datang lebih cepat, saya mencoba untuk lebih terbuka dan membuat niat untuk menikah. Saya percaya, menikah itu selain karena sudah matang secara usia, finansial, dan lain-lain, faktor niat menjadi faktor yang sangat penting. Semua amalan harus disertai niat, setidaknya itu yang saya tanamkan dalam diri saya. Sebelum ke Afrika saya pernah beberapa kali iseng bercanda dengan teman-teman PPI, “Tahun 2017 aku nikah nih, aamiin.. haha”-

Sejak pulang dari Afrika Selatan, sejujurnya meski saya kadang masih berdoa tentang jodoh, saya mulai lebih memilih untuk fokus pada karir saya nanti. Saya ingin S3, saya ingin ini itu, dan alhamdulillah saya sudah lebih tahan banting dan tidak terpengaruh dengan pertanyaan-pertanyaan orang tentang pilihan hidup saya. Saya percaya, jodoh bisa datang nanti. Saya sekarang hanya ingin belajar, bekerja, traktir mama jalan-jalan. Jodoh itu urusan lain, nanti. “Lagian males banget deh mikirin itu. Tesis aja belum kelar.”

Hingga akhirnya petunjuk datang pada hari Jum’at, 7 Oktober 2016

Kesibukan tesis terus berjalan dan setiap Jum’at adalah Jum’at yang barokah untuk saya karena saya harus presentasi progres tesis setiap hari Jum’at di seminar lab. Kesibukan ini benar-benar saya nikmati. Perjalanan kereta dari apartemen ke kampus Tokyo yang butuh waktu 2 jam tidak lagi menjadi keluhan saya. Saya bulat dengan misi saya belajar hingga jenjang doktoral. Hari itu entah kenapa saya lelah sekali dan ingin segera tidur sesampainya saya di apartemen. Namun tiba-tiba saya mendengar suara berisik anak-anak PPI di lantai atas apartemen saya. Kesamber apa, sumpah ngga ngerti, saya memutuskan buat batal leyeh-leyeh dan bergabung dengan mereka. Mereka sedang membuat sate untuk acara kumpul-kumpul PPI hari Sabtu besok. Saya nimbrung dan sok asik ikut menghabiskan snack Rendy- haha maaf Ren. Di tengah obrolan, pertanyaan yang sama datang lagi “Mei habis pulang dari Afrika ya? Wah jauhnya.. Habis lulus S2 mau ngapain Mei?- “Hm, mau S3 mas.”-“Weh? Kirain mau nikah dulu Mei haha”-“Haha nanti aja mas. Aku sih jalanin yang ada aja mas. Kalo belum ada calon masak mau menikah. Ntar aja lah, lagi seneng sekolah nih.”-

I want to skip all the conversation details but the point is..

“Mei, aku ada temen. Dia sholeh, baik, pinter, baru mau S3 di Austria. Kamu mau aku kenalin?”

Menjalani perkenalan dan LDR Jepang-Austria

Dia yang kemudian hadir dan muncul disaat saya sudah memasrahkan sepenuhnya takdir jodoh saya kepada Allah

Dia yang kemudian berani datang ke Mama dan melamar saya

Dia yang kemudian terbang dari Austria ke Jogja hanya untuk datang membawa keluarganya ke rumah saya

Dia yang pernah menangis ketika visanya ke Jepang ditolak padahal dia ingin sekali hadir di wisuda S2 saya

Dia yang kemudian mengirimkan kejutan hadiah cincin di hari kelulusan saya

Dia yang membuat saya yakin bahwa saya berhak untuk sekolah tinggi, dan juga berkarir, dan menyadarkan saya bahwa suami istri kelak adalah partner, bukan si tukang ngantor dan si penunggu rumah

Dia, yang kemudian hanya dengannya, insya Allah, saya ingin membangun hidup saya, membangun mimpi berdua, dan menua bersama

Semua cepat sekali, hingga saya merasa sepertinya Allah sedang mengirim semua utusannya untuk mempermudah langkah kami

8 Juli 2017

Tidak butuh waktu yang lama bagi kami untuk meyakinkan diri masing-masing. Kami memutuskan untuk menggelar akad nikah dan walimah sederhana di Yogyakarta. Tidak ada malam midodareni dengan siraman bunga-bunga bleketepe dan semacamnya. Kami sepakat bahwa momen terpenting adalah akad nikah, sehingga kami hanya fokus pada akad nikah dan syukuran satu jam setelah akad nikah. Kami juga sepakat bahwa kehidupan setelah akad nikahlah yang membutuhkan modal besar, sehingga rasanya sayang untuk menggelar resepsi mewah namun lupa untuk membayar asuransi bulanan di Austria (curcol bangeet ūüė¶ kisah asuransi Austria ini lain kali akan saya bagi dengan teman-teman tapi sumpah ya Allah.. mahal.. dan menguras waktu serta pikiran dalam mengurusnya)

Sulit  bagi saya untuk menjelaskan dengan detail bagaimana perasaan saya ketika hari H. Saya kehabisan kata-kata. Saya hanya bersyukur, insya Allah saya memilih orang yang tepat.

Yang ternyata dengan sigap mengajak saya beribadah, dari ibadah wajib hingga sunnah

Yang ternyata mampu mengajari dan memberikan teladan untuk saya dalam pembawaan dan akhlaknya

Yang ternyata lebih pintar memasak dari saya ūüė¶

Yang ternyata kalau nyapu bersih banget.. ūüė¶

Yang tidak pernah memisahkan peran dan pekerjaan suami dan istri

Yang tiba-tiba memasak air panas dan minuman hangat di pagi buta untuk saya ketika saya demam tinggi

Yang jika dengannya, saya percaya insya Allah hidup saya akan baik-baik saja, insya Allah hingga mimpi kami nanti untuk saling tarik menarik menuju surgaNya

Terima kasih Mas Niko, Terima kasih ya Allah.. Alhamdulillah

Saya sekali lagi memohon doa kepada teman-teman untuk kelancaran kehidupan kami nanti di Austria hingga kelulusan Mas Niko, hingga kembali lagi ke tanah air, hingga gantian saya yang sekolah :’)) hehe dan hingga seterusnya. Kami memohon restu agar rumah tangga kami sakinah, mawaddah, warrahmah.

Seorang teman baik membuat video pernikahan untuk kami:

https://www.facebook.com/plugins/video.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fmeidesta.pitria%2Fvideos%2F10212974078283470%2F&show_text=0&width=560“>Wedding Clip Mei and Niko

profpic

Hari ini saya menangis karena sudah hampir 2 bulan kami LDM sejak menikah namun residence permit saya baru selesai besok Senin, insya Allah. Kenapa LDM ternyata sesedih ini.. :”(¬†

2,5 tahun di usia 25 tahun bersama seorang guru yang berusia 52 tahun

Assalammualaikum wr.wb.

Sekarang saya sedang duduk lesehan sambil mengisi baterai hp di terminal domestik, menanti jam kepulangan saya ke Tokyo dari Hokkaido.

Saya baru saja selesai jalan-jalan singkat bersama teman-teman lab selama 3 hari 2 malam, ditambah 1 hari 1 malam sendirian.

Alhamdulillah di usia saya yang ke 25 tahun saya dipercaya oleh Allah untuk lulus dari program S2 di lab idaman saya sejak 2012, Okabe Laboratory. Kemarin tanggal 8 Februari 2017 saya sidang dan tanggal 10 saya dinyatakan lulus.


Saya ingin sedikit bercerita tentang perasaan saya sejak sidang hingga akhirnya sekarang sedang bersantai tanpa beban di kota paling bersalju di Jepang, terutama tentang Professor saya, Professor Akiko Okabe. Beliau sekarang merupakan Professor sekaligus Kepala Jurusan di Socio-Cultural Environmental Studies, The University of Tokyo. Detail akademik dan pengalaman hidup beliau bisa diintip di web kampus kami. *haha mager ngetik banyak-banyak tentang pengalaman beliau, banyak banget dan capek ngetiknya ūüėā*

Saya mencoba mengingat-ingat lagi bagaimana 2,5 tahun hidup saya di Jepang sudah berjalan.

Tahun 2012 saya sedang sibuk menata pameran riset arsitektural Ekskursi Mentawai 2012, telpon dari Bu Ellisa, dosen pembimbing skripsi saya, tiba-tiba datang.

“Mei, kamu lulus semester depan aja gimana? 3,5 tahun rasanya terlalu cepat. Kamu juga terlihat sedang sibuk dengan pameran ekskursimu. Kamu nanti bantu proyek saya saja dengan universitas Jepang. Ya? Gimana?” Saya sejujurnya tidak tahu bagaimana harus merespon saran dosen saya. Saya dengan lempeng saja menjawab “Baik bu.”

Akhirnya saya melanjutkan pekerjaan saya mempersiapkan pameran hingga keesokan harinya tanpa tidur sama sekali. Perasaan lega muncul namun perasaan kecewa batal lulus cepat juga sedikit terasa.

Saya kebetulan merupakan tipe yang penurut-penurut saja dan mencoba menikmati apapun proses belajar yang saya jalani. Tapi sering mengeluh juga sih ūüėā

Proyek dengan Professor Jepang bernama Prof Okabe atau sering dipanggil Okabe sensei ternyata sangat menyenangkan. Saya terjun ke lapangan, saya menghitung pengeluaran harian dari membeli semen hingga rokok dan air mineral untuk para tukang, saya juga sering berdebat dengan tukang tentang ukuran dan posisi jendela, sepele tapi lucu. Saya memang masih banyak sok tahu. Dan saya senang karena saya menyadari itu ūüôā

Pengalaman proyek tersebut membuat saya ingin belajar di Jepang. Sebagai orang yang tidak terlahir jenius maupun cerdas, saya merasa hanya etika kerja dan disiplin yang bisa membuat mimpi saya menjadi mungkin. Dan Jepang banyak mengajarkan saya tentang dua hal tersebut.

Professor Okabe sangat senang mendengar saya ingin belajar dengan beliau. Alhamdulillah dengan doa mama bapak yang tidak pernah berhenti, keluarga, teman-teman, dan juga izin Allah saya mendapatkan beasiswa setelah kelulusan saya. Saya berangkat ke Jepang 2,5 tahun lalu. Di Jepang saya menghadapi banyak kesulitan namun juga sering mendapatkan kemudahan. Orang-orang Jepang sangat helpful dan respectful. Alhamdulillah saya perlahan beradaptasi dengan bahasa, dengan pergaulan, dengan kelas-kelas dan proyek yang sulit, hingga tesis dan conference-conference yang saya ikuti. Kombinasi professor yang sangat supportive, optimis, dan ambisius membentuk saya menjadi pribadi yang tidak lagi mengejar gengsi atau pujian. Beliau mengajarkan saya dari hal yang sangat sepele hingga hal-hal kompleks di dunia akademik dan dunia nyata. Saya akan mencoba merangkum beberapa poin pelajaran yang saya lihat dari keseharian beliau

1. Bangun sepagi mungkin, balas email, kerjakan pekerjaan rumah, urus suami, dan segeralah ke kampus dengan membawa bekal, jauh lebih hemat.

2. Jangan pernah bilang kepada orang lain bahwa kamu sibuk. Sibuk itu relatif dan waktu itu bukan untuk mengatur kamu, tapi untuk kamu atur. Lagi-lagi, bangun sepagi mungkin.

3. Jangan pernah sepelekan hal-hal kecil. Jika seorang arsitek dan peneliti menggambar dengan baik gambarnya sendiri, itu memperlihatkan bagaimana dia sangat mencintai pekerjaannya sendiri. Dan orang lain tentu juga akan sangat senang menikmati karyanya.

4. Makanlah makanan yang kamu tahu proses memasaknya. Itu artinya kamu bertanggungjawab kepada dirimu sendiri. Kamu memastikan makanan apa yang masuk ke perutmu.

5. Sayangi anak mahasiswa selayaknya kamu menyayangi anak-anakmu. Kami pernah ke Barcelona, Spanyol berdua saja tahun lalu. Saya masih tidak menyangka kala itu beliau benar-benar memperlakukan saya seperti anaknya sendiri.

6. Seorang wanita karir, jangan pernah menganggap bahwa memiliki suami dan anak adalah halangan dan beban. “Saya menikah di usia 23 tahun dan saya memiliki anak ketika saya sedang menyelesaikan studi master saya.”

7. Tidak penting bagaimana hasilnya. Yang penting adalah prosesnya. “Saya dapat melihat berapa lama seorang mahasiswa mengerjakan karyanya dari melihatnya bercerita kepada saya. Dan saya jauh lebih menghargai mahasiswa yang terlihat sudah bekerja banyak untuk pekerjaannya, dibandingkan pekerjaan yang hanya terlihat “baik-baik saja” untuk diperlihatkan.”

8. Jangan pernah gengsi untuk turun langsung ke lapangan. Hargai proses belajar dengan orang yang mungkin pengalamannya belum sebanyak kamu. Turun langsung, ajarkan dengan mencontohkan.

Professor saya terlihat berbahagia dan lega dengan kelulusan saya. Ketika presentasi beliau selalu senyum seakan meneriakkan “semangat Meidesta!” dari kursinya.

Saya sungguh merasa bersyukur karena sejak dari Chiba University hingga ke The University of Tokyo, beliau membimbing saya tidak hanya di jam-jam luangnya, namun juga di jam-jam sibuknya. Gelar ini bukan hadiah untuk saya saja, namun juga untuk beliau. Saya tidak lulus sendiri, kami lulus berdua ūüíô

Tulisan ini hanya sedikit dari hal-hal yang ingin saya ceritakan tentang beliau. Beliau yang sibuk, yang tetap senyum, seorang ibu yang tangguh, yang optimis dan ambisius namun tetap membumi, yang selalu menjadi salah satu panutan saya, role model saya di dunia karir nanti.

Terimakasih Professor. Selamat ulang tahun ūüíô
  

gado-gado curhat siang hari

musim gugur mulai beralih ke musim dingin..

12249728_10207313078602016_9022395159354868293_n

karena hanya kepada wordpress saya dapat menceritakan kehidupan saya dengan lebih sok dramatis dan sok menggebu dan sok menggunakan banyak konotasi.

karena saya mulai mati gaya di lab di tanggal merah hari ini.

karena instagram kadang semu, facebook terlalu ramai, dan twitter terlalu pelit (140 karakter saja men, pelit bukan?)

kali ini saya menulis dengan EYD seenaknya, jadi mohon maaf sebelumnya kepada rekan-rekan grammar nazi.

[curhat ini diawali dari shock nonton vlog anak muda yang semakin menjamur: terutama tentang trip mereka dengan pacar-pacar mereka.

and i was like “gue yang terlalu culun apa mereka yang terlalu gaul sih”

saya nol banget pengalaman pacaran. jadi kali ini pengen curhat gimana saya gapernah pacaran, trus kebanyakan sekolah, kangen bapak, dan cerita tentang menunda S3. ya namanya aja gado-gado curhat. mohon dimaklumi kalau nggak bagus alurnya.]

yap. dimulai dari bahasan klise: pacaran

*oiya. sebagai catatan ya: pacaran-tidak pacaran itu tergantung individu masing-masing. itu kan hanya istilah. disini saya menempatkan diri sebagai sosok culun yang selain berprinsip nggak mau pacaran juga memang tidak diperbolehkan mama bapak saya pacaran (juga karena nggak laku-laku… halah), bukan mau sok-sokan menggurui¬†teman-teman bahwa pacaran dilarang dalam agama atau semacamnya hehe nanti jadi panjang diskusinya kalau ngobrolin dalil via blog, takut jadi marahan juga kalo ga sama prinsipnya. jadi yang santai yaaa bacanyaaa *peace¬†

saya hanyalah meidesta pitria. anak kedua mama bapak yang kadang polos, terlalu blak-blakan, dan sering dianggap sebagai manusia yang¬†mendewakan pendidikan sebagai salah satu kekasih utama. pacaran? sekalipun belum pernah, kalau gebet-menggebet dan kagum.. ya adalah beberapa kali. dari kakak kelas, teman seangkatan, hingga aktor korea. dan semua cukup saya pendam dalam hati saja *rajin curhat ke temen deket sih, halah*. awalnya karena memang tidak diperbolehkan oleh mama bapak. “dede nggak boleh pacaran ya. nggak usah. nanti langsung komitmen sama orang trus nikah aja.” dan pada dasarnya saya memang agak terlampau polos, permintaan mama bapak benar-benar saya turuti (padahal kalau dipikir-pikir banyak yang memutuskan backstreet, kan yang penting nggak ketahuan. bener juga ya haha *trus nyadarnya baru sekarang, dedot*). tapi kalau dipikir-pikir, berbohong itu, apalagi kepada orang tua, mana tega. berbohong kepada diri sendiri dan orang lain aja tidak dianjurkan, apalagi kepada orang tua. *cie *silakan lempar saya ke sungai terdekat haha

saya mah, caranya pacaran aja ngga tau, gimana mau pacaran -_-

ketika SD, ada A yang rajin ngajak duduk sebelahan dan beberapa kali mengajak pulang bersama naik bis. ketika perpisahan SD, A main gitar keren banget, dan saya meleleh. tapi dasarnya anak SD, mana tau istilah pacaran. lalu kisah tamat begitu saja.

ketika SMP, ada B yang rajin banget membully tanpa sebab tapi tiba-tiba jaman labil anak SMP rajin merayakan valentine, dia memberikan saya coklat toblerone dan kado. mungkin saat itu saya tertarik dengan si B tapi kan dulu masih kecil ya, mana paham suka-sukaan gitu *halah. yap, lalu kisah SMP juga tamat begitu saja.

ketika SMA.. ini dia. pertama kalinya saya menyukai orang hingga beberapa kali. pertama, kakak kelas saya sendiri hingga saya diam-diam menghapalkan tas yang dia pakai, parkir motor favoritnya, hingga sepatu andalannya. satu kali dia menulis pesan ke saya via friendster “kamu lucu ya, kok ada ya orang kayak kamu”. saya speechless, mungkin kakak kelas saya udah lama ngga nonton srimulat¬†-_-.. ada juga saat ketika saya menyukai teman seangkatan saya sendiri, duh lupa namanya, eh inget. haha. tapi saya bersyukur waktu SMA dikelilingi oleh teman-teman dekat yang kebanyakan nggak pacaran. jadi alhamdulillah segala perasaan dapat disimpan di dalam hati saja. paling ekstrim ya cerita ke mama atau teman baik hehe. cerita ke bapak.. nggak pernah.. hehe takut.

ketika kuliah.. huffness. saya kuliah merantau ke Depok dan Jakarta. jadi boro-boro memikirkan pacaran atau calon suami dengan serius, suka sama orang aja selalu nggak maksimal. cucian numpuk, tugas kuliah banyak, dan banyak faktor yang membuat saya selalu (beruntungnya) gagal pacaran. saya merasa mungkin sosok-sosok yang saya suka ketika kuliah hanyalah figur menarik yang cocok untuk saya jadikan bahan stalking setiap buka media sosial saja. saya tidak pernah berinisiatif untuk melakukan pendekatan (seperti yang banyak dipraktekkan teman-teman lain). sampai akhirnya saya berangkat S2 ke Jepang.. haha teman-teman kos sering membully saya “si jomblo senior”.

being a 25 year-old : syukur dan refleksi

tahun ini usia saya menginjak 25 tahun. kue ulang tahun yang terakhir kali dibuatkan oleh salah seorang teman baik di PPI pun secara tegas menuliskan angka 25 di atasnya. saya, bersyukur sekaligus melakukan lebih banyak refleksi. bersyukur karena usia 25 ini saya semakin dikaruniai teman-teman baik yang buanyak dan sekarang saya sedang mengerjakan tesis (sekaligus menyiapkan ide penelitian untuk persiapan sekolah doktoral), i was wishing for those¬†few years ago! dan refleksinya adalah, saya merasa harus lebih banyak mendengarkan mama dan bapak. kemudian mama dan bapak (sebelum meninggal) menelpon saya pada suatu sore.. “dede, S3nya nanti aja. pulang dulu, ¬†ikhtiar mencari suami, lalu cari beasiswa S3. pendidikan kan bisa dicapai bersama nanti dengan suami.¬†ya dek ya.. nanti kan S3 bareng sama suami malah enak, nggak sendirian, ada temennya.”

saya sempat lemas.

saya sejujurnya lebih banyak mengurus kuliah, riset, dan organisasi daripada dengan serius memikirkan pendekatan sana-sini atau gebet sana-sini. saya tidak mengingkari bahwa saya beberapa kali menyukai orang dan juga beberapa kali bertepuk sebelah tangan *malah curhat kan kan*, tapi sungguh saya terlalu takut untuk berkomitmen karena saya masih belum sepenuhnya berani fokus mengabdi untuk rumah tangga. hingga akhirnya telpon dari mama dan bapak itu datang beberapa bulan lalu, sepulangnya saya dari Jerman.

am i too far in being an independent? yes, maybe.

bapak meninggal di hari pertama bulan ramadhan, sesuai dengan doanya beberapa tahun lalu, meninggal di hari pertama bulan suci. saya sangat sedih dan menyesal tidak berada di Jogja ketika bapak saya berpulang kepada Allah. banyak mimpi bapak yang belum saya penuhi, permintaan sepatu olahraga berwarna biru dan sabuk pesanan bapak belum sempat saya serahkan ke beliau, juga diskusi-diskusi yang belum kami lakukan, terlebih mengenai imajinasi bapak tentang masa depan saya. saya tidak ingin membahas lebih banyak tentang meninggalnya bapak karena siang ini saya tidak ingin menangis. poinnya adalah, ada beberapa hal yang menyentil saya kemudian setelah bapak meninggal.. dua pesan dan refleksi dari bapak yang sering disampaikan kepada kami ketika beliau masih hidup..

pendidikan itu investasi berharga, pun dengan mempertebal keimanan, jauh lebih wajib

“bapak seneng punya anak sekolah tinggi, bangga kok. tapi buat apa pinter dan sekolah tinggi kok ibadahnya nggak bagus. sedih bapak.”

“dede gimana sholatnya?” itu pertanyaan pertama sebelum bertanya “udah ada calon belum?” atau “gimana sekolahnya?”

“dek, jangan lupa ngajinya lho. bapak sedih kalo dede nggak ngaji. sehari sekali gapapa. kalo sore sibuk kuliah ya habis subuh ngajinya..”

semua telpon bapak selalu diakhiri dengan pesan “dede sholatnya lho ya sama ngajinya, tenan kuwi. pinter tapi engga rajin ibadahnya buat apa.”

beberapa keputusan tidak selalu karena kita 100% menginginkannya. ada yang namanya kewajiban kepada Allah dan ada yang namanya “ingin membahagiakan orang tua dan saudara”

saya cukup idealis, tapi saya lebih senang jika keputusan saya melibatkan orang-orang terdekat saya dan membuat mereka berbahagia juga, bukan hanya menjadi kebahagiaan saya sendiri: pertama, arsitektur adalah jurusan yang diidamkan mama saya. ketika SMA saya suka arsitektur: suka doang, nggak pake banget, namun sekarang saya sangat mencintai jurusan perkuliahan saya. kedua, saya tidak berniat mengambil kesempatan kuliah di UI, namun pakdhe, teman, dan saudara saya sangat bahagia jika saya mengambil kesempatan berharga tersebut, jadilah saya berangkat ke Jakarta sejak 2009. ketiga, saya sangat ambisius kuliah di Jepang langsung hingga S3 namun orangtua saya kurang ridho. jadilah, saya berniat menunda studi saya (semoga tidak lama). tapi saya yakin, saya akan mendapatkan hadiah lain yang mungkin menjadi skenario lain yang disiapkan Allah.

ada hal intangible yang mungkin kurang bisa diterima semua orang: faktor ridho orang tua dan kebahagiaan mereka. buat saya hal tersebut jauh lebih penting dari ambisi pribadi.

so i’ve decided to postpone my doctoral study (i hope it won’t so long) and to focus on my family (mom and younger sister) after graduation, look for a doctoral scholarship, job, dan insya Allah jika diridhoi, Ya Allah… saya ingin segera mengubah¬†status jadi +one (hahahaha) you will laugh hardly, i am sure.

jadi untuk teman-teman yang masih muda.. masih segar dan belum mulai layu seperti saya (yang mulai gampang demam kalo kecapekan) ayo bekerja dan belajar yang rajin juga diimbangi dengan ibadah yang kuat karena, bagi kita yang mengimani Tuhan, kita ada dan akan kembali kepadaNya. saya juga menasihati diri sendiri lho hehe.

‚ÄúBehind every young child who believes in himself is a parent who believed first.‚Ä̬†-Matthew Jacobson-

-dede kangen bapak-

23.11.2016-sendirian di lab. tanggal merah uy.

belajar merdeka dan merdesa dari afrika selatan

“Samina-mina ee waka waka ee…”

Mungkin hanya itu, petikan soundtrack Piala Dunia 2010, sekilas yang familiar bagi saya jika mendengar Afrika Selatan, diluar isu-isu politik, pendidikan, dan rasisme yang sering saya lihat melalui film-film.

Kali ini saya ingin menceritakan refleksi perjalanan saya di Afrika Selatan untuk conference. Tujuan utama ke Afrika Selatan memang untuk presentasi di conference tahunan ISOCARP, namun ternyata waktu yang saya habiskan di Afrika Selatan selama delapan hari memberikan saya refleksi yang lebih dari sekedar kegiatan conferencenya saja.

dscf6700

#1 Intro

Pertengahan 2016 ini saya mendapatkan kesempatan untuk mendaftarkan progres master thesis saya sebagai salah satu bahasan di panel “Planning Activism and Social Justice”, 52nd ISOCARP Congress, Durban, Afrika Selatan. Terkesan heroik ya discussion tracknya, dan itu yang membuat saya sedikit (banyak sih) tertekan karena harus dapat mewakili kaum urban planner Indonesia yang mengkritisi isu tersebut di dalam skala Indonesia, dan juga dunia.

#2 Jadi, apa itu ISOCARP dan kenapa ikut ISOCARP Conference?

ISOCARP adalah akronim dari International Society of City and Regional Planners. Jadi bisa diduga, memutuskan untuk bergabung di conference ini adalah salah satu bentuk pemaksaan diri untuk belajar lebih banyak, lebih keras, karena dunia urban planner di dunia mungkin sungguh kejam, bung. Jadilah saya sudah pusing ini itu sejak April. Sebagai mahasiswa master tahun kedua sudah sepatutnya saya bertapa di lab saja dan berburu beasiswa S3 atau job hunting. Pada kenyataannya, passion saya berdiskusi tentang isu kampung membawa saya pada kenekatan untuk bertemu urban planner sedunia dan memutuskan untuk mengerjakan paper di waktu-waktu santai saya. Teman-teman dekat di Jepang semakin jarang melihat saya.. makan siang saya semakin solo.. dan apalagi memikirkan mencari calon suami, boro-boro deh (jengjeng maaf jadi out of topic).

#3 Sedikit intermezzo tentang minat riset saya

Jadi saya sangat senang membahas betapa bahagianya warga kampung di Jakarta (tepatnya di Cikini, Jakarta) dengan kehidupan mereka. Sudah lima tahun saya membantu proyek dan riset di Kampung Cikini. Kalau banyak rekan sering membahas kontroversi relokasi dan demo sana-sini karena penggusuran melalui media sosial, saya lebih senang menuliskannya dalam paper dan membahas betapa bahagia dan serunya kehidupan di kampung padat Jakarta. Saya takut sekali dengan debat. Selain karena saya takut terbawa emosi, saya merasa belum tahu banyak tentang isu informal settlement, relokasi dan penggusuran, apalagi urban policy. Saya mengakui, koleksi bacaan saya masih sangat sedikit hehe. Jadi saya berusaha untuk mengurangi debat sana-sini dengan menuliskannya dalam bentuk paper. (Sok akademis ya, tapi sumpah deh ngga ngerti beneran mesti ikut ngamuknya gimana, saya lagi di Jepang jadi susah mau turun ke jalan, ke kantor Ahok, atau bahkan sampai ikut demo). Untuk saat ini, usaha saya yang paling mungkin dan realistis adalah dengan menulis tentang kampung dalam bentuk paper. Saya membahas tentang house extension strategy yang dilakukan para ibu rumah tangga di kampung. Ya intinya tinggal di kampung kita ngga cuma bahas tidur di rumah atau makan di ruang makan atau masak di dapur belakang. Kita tinggal juga di gang, dan secara ngga sadar, kita membentuk house extension sebagai bentuk kebutuhan kita terhadap ruang yang intim di kampung. Ngga ada itu istilah pemisahan rumah dan jalan #intinyagitudeh. Dengan melihat kampung dari jauh, saya berusaha melihatnya dari berbagai sudut pandang. Saya menghimpun data dengan tinggal bersama warga Kampung Cikini. Tentang kehidupan saya di Kampung Cikini saya berjanji akan menulis di post selanjutnya.

“Mei fokus mei, kita lagi bahas tentang refleksi perjalanan conference di Afrika Selatan.”

Alhamdulillah abstract saya accepted dan akhirnya saya mendapatkan sponsor juga untuk berangkat ke conference ini. Setelah jatuh bangun mengerjakan paper di tengah cobaan atas berpulangnya bapak saya di 2 minggu sebelum pengumpulan final paper, atas ridho Allah saya berhasil menyelesaikan paper dan bersiap berangkat ke Afrika Selatan 10-17 September 2016. Detail persiapan trip ke Afrika Selatan cukup melelahkan untuk diceritakan, terutama dari mengurus visa sambil mengurus workshop, mbak kedutaan di Jakarta yang salah paham, dan drama lari di bandara Doha, Qatar karena transit yang hanya satu jam. Yang itu juga lain kali saja ya saya ceritanya hehe.

#4 Refleksi 1. Memaknai lagi “Merdeka”

Afrika Selatan. Negara luas yang baru merdeka kurang lebih dua dekade

dscf6539

Sebelum saya berangkat, sekilas saya hanya tahu bahwa ada politik apartheid dan rasisme yang kuat di negara ini. Saya lemah sejarah dan geografi, tapi rasa kepo saya cukup tinggi, jadilah selama disana saya banyak bertanya dengan rekan urban planner yang tinggal di Afrika Selatan. Afrika Selatan memberikan saya pengetahuan baru bahwa untuk menjadi bahagia tidak bisa diukur hanya dengan bebas ngenet 24 jam dan atau ke mall untuk bergaya dengan tentengan belanjaan. Mendapatkan hak untuk hidup berdampingan dengan kaum berbeda ras dan berbagi segala aspek kehidupan dengan semua golongan rupanya masih menjadi hal yang baru di Afrika Selatan. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan hidup di perumahan yang diperuntukkan untuk kulit putih saja dan atau kulit hitam saja. Sebegitunya, benar-benar sebegitunya ya sejarah Afrika Selatan. Pemisahan antara kulit putih dan hitam, diskriminasi di berbagai sektor, hingga kamu hidup dimana aja dicluster! Gila ya. Mungkin sama dengan jika kita membuat perumahan khusus orang Islam, atau khusus orang Jogja, apalagi khusus untuk yang cantik (ini sih ngeselin). Rasanya kita masih jauh lebih beruntung karena kita tidak hidup dalam kekangan lagi. Meski sekarang kita masih hidup dalam kekangan yang kita buat sendiri sih #ups #pantangnyinyir.

oke, lanjut.

Refleksi sesungguhnya banyak datang dari perjalanan satu hari saya, diantara Durban-Hluhluwe

Sepanjang one day trip saya dari Durban ke Hluhluwe, saya melewati hamparan bukit dengan rumah-rumah yang dibangun secara swadaya oleh warga lokalnya. Ini penampakannya:

dscf6530dscf6572

Memutuskan untuk membangun di tanah tidak bertuan masih menjadi hal yang umum di Afrika Selatan. Sama dengan beberapa daerah di Indonesia sih ya. Afrika Selatan memang sudah merdeka, namun dibalik keberadaan rumah mereka yang tersebar di hamparan bukit, terdapat isu kekurangan sumber air minum, toilet, hingga wabah AIDS yang terus merajalela. Saya melihat bagaimana tangki hijau menjadi satu-satunya harapan mereka untuk menampung air hujan (nyatanya sudah lama tidak ada hujan yang turun). Bantuan air dijadwalkan datang dari pemerintah namun seadanya. Dan bantuan air tersebut harus mereka ambil dan angkut dari pinggir jalan.

Keprihatinan lain adalah, gajah badak singa mulai menghilang secara perlahan, dan diprediksi akan punah. Maka, jika kita bicara merdeka, bukan hanya merdeka untuk manusia saja. Tapi juga bagaimana cara memerdekakan hewan-hewan yang telah hidup di tanah Afrika sejak lama.

dscf6673dscf6725

Satu lagi, hamparan eucalyptus di sepanjang perjalanan juga sangat cantik, namun mengetahui kenyataan bahwa sebagian besar keuntungan hanya diraup oleh keluarga pemimpin negara membuat saya sedih. Kesedihan saya mungkin karena memori akan orde baru, masa dimana saya sebenernya mah juga belum tau apa-apa mengenai kebijakan politik (sekarang juga masih awam sih hehe).

dscf6522

Saya mulai speechless dan tidak tahu harus membahas apa lagi karena rasanya terlalu banyak kering-kering hampa dan kosong di Afrika Selatan, diluar segala kekayaan alamnya yang memang menakjubkan. Mungkin ini memang bagian dari refleksi yang mengingatkan saya tentang masih banyak yang perlu dibenahi juga dari negara saya sendiri…..?? Afrika mengingatkan saya betapa kompleksnya isu duniawi dan betapa sederhananya cara untuk menjadi bijak, yaitu dimulai dari memanjatkan syukur atas kehidupan yang saya nikmati sekarang. Terimakasih Afrika.

#5 Refleksi 2. Merdesa setelah Merdesa

“Merdesa itu artinya layak dan patut. Jadi, setelah merdeka, kita harus mencari hidup yang patut dan layak” Pandji Pragiwaksono seorang stand up comedian pernah menyampaikannya dalam sebuah diskusi. Ada yang harus kita perjuangkan selain menjadi sekedar merdeka, yaitu merdesa. Dan di hari Sumpah Pemuda ini, sekali lagi saya masih terus bermimpi tentang menjadi pemudi yang tidak banyak bicara, yang menyerukan perjuangan bukan dari media sosial saja, bukan dari celotehan di warung kopi yang menjual kopi seharga 500 yen per gelas (setara dengan harga air minum berminggu-minggu di Gunungkidul Jogja coy). Saya masih terus bermimpi untuk menjadi pemudi yang berkontribusi nyata. Yang menyampaikan aspirasi di jalur yang saya geluti, yaitu dunia akademis. Yang kemudian menyampaikan pemikiran bukan sebagai orang yang merasa terdidik karena universitas, namun terdidik karena masyarakat, dididik oleh masyarakat, salah satu sumber inspirasi penting dan sosok nyata tempat saya berbagi. Karena hidup selayaknya dibagi, dan hidup selayaknya bermanfaat, bukan hanya bahagia.

Ditulis di hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2016.
Seusai mengumpulkan midterm thesis progress.
Iya, sedikit lagi sebelum menjemput mimpi yang lain.

Foto: Dokumentasi pribadi.

short-term friendship, worth a lifetime

memaknai ‘berteman’ tidak sekedar melihat kosakata ‘teman’, ditambahkan imbuhan ‘ber-‘, lalu merubahnya menjadi kata kerja

berteman kadang hanya perkara tidak kenal menjadi kenal

berteman kadang hanya menjadi istilah penanda bahwa setidaknya kita pernah satu kelas, satu sekolah, atau sekedar satu almamater (yang pada kenyataannya mungkin hanya tahu, kenal, namun belum berteman)

jika keluarga adalah rezeki yang sudah dihadirkan sejak lahir, maka teman adalah sosok yang terpilih menjadi bagian dari kehidupan, atas kehendak kita sendiri

iya, yang istimewa dari berteman adalah, kita bisa memilih dengan siapa kita berteman.
saya selalu berusaha berteman dengan siapa saja, seperti yang sudah pernah diajarkan di pelajaran kewarganegaraan sejak pendidikan dasar. hanya, semakin kita bertambah usia, saya merasa selalu ada sosok-sosok teman yang memiliki peran masing-masing yang spesial, tidak tergantikan.

saat SD saya memiliki sekumpulan teman baik yang kemudian saya nobatkan sebagai sahabat lima sekawan. kami hobi menulis diary dan mencintai meteor garden layaknya geng sok gaul yang sering kami lihat di layar kaca. begitupun dengan SMP, saya sempat dekat dengan sekumpulan teman yang memiliki minat terhadap internet yang sedang populer di masa itu. pertemanan kami ditandai dengan ritual ke warnet secara bersama-sama setiap hari jumat sepulang sekolah.

ketika SMA dan kuliah, saya mulai belajar bagaimana melihat diri sendiri dari sudut pandang orang lain. melihat orang memiliki geng, berteman dengan banyak orang, tidak memiliki teman, populer secara alami, dan melihat beragam karakter manusia di lingkungan pergaulan dan sosial sempat mengagetkan saya dan menyadarkan saya tentang rumitnya tumpang tindih aktivitas sosial dan pertemanan di sekitar saya. menjadi sosok yang berusaha beradaptasi di lingkungan manapun kemudian saya lakukan secara perlahan.

saya tidak memiliki satu sahabat yang spesifik sejak SMA. saya bersyukur memiliki banyak sosok yang saya sayangi.

fira. sahabat yang selalu mengerti dan berani mengingatkan saya tentang bagaimana memikirkan manajemen dan masa depan.

dindut. sahabat yang selalu memanggil saya mama karena dia menganggap dirinya sebagai anak saya. kehadirannya penuh, 24 jam.

anya. sahabat yang memanggil saya ‘mbak mei’. anya selalu menginspirasi saya untuk menjadi wanita pekerja keras namun melihat langit tetap sebagai langit.

kacin tika novia onyon watun biya mao talita nanda dhilas.kumpulan wanita kesayangan sejak saya memulai perkuliahan yang keras di UI.

dan banyak sekali sosok-sosok lain yang saya sayangi. setiap dari mereka memiliki peran yang berbeda sehingga setiap sosoknya akan selalu menjadi spesial.

short-term friendship while studying abroad.

di Jepang, saya dihadapkan pada kumpulan teman yang bervariatif, namun sedikit.

disini, berteman dengan baik dan dengan siapa saja adalah hal yang mudah. namun memiliki sosok teman baik dan sahabat, sedikit sulit.

sejujurnya, tulisan ini memang diawali dari kisah kepulangan dua teman baik saya yang pulang 30 September 2015 lalu.

di Jepang, berdiskusi panjang lebar tentang adegan epic di kereta atau berbagi jokes tidak berguna tidak bisa dilakukan dengan banyak orang. selain kendala bahasa, budaya semacam itu yang biasa tercermin dari anak berisik seperti saya sangat susah diterapkan kepada teman-teman yang berkewarganegaraan Jepang. sehingga lagi-lagi, bergaul dengan teman sesama kewarganegaraan Indonesia adalah salah satu pilihan yang tidak terelakkan.

sisca



sisca menjadi satu teman baik yang saya kenal sejak dua tahun lalu.

sisca menghargai privasi, memiliki rasa peduli yang kadang berlebihan, dan memiliki tekad sebulat bola bekel. saya sering speechless dengan berbagai aksi yang diambil sisca.

mas didi

mas didi memiliki kadar ilmu pengetahuan tingkat alien yang turun dari UFO kemarin siang.

mas didi menjadi sosok tempat bertanya hampir semua anak PPI, memiliki rasa panik berlebihan, mudah merasa bersalah, super sayang sama mba rena, istrinya yang super mandiri di bandung, dan yang paling saya ngga ngerti: sering ngomel tapi selalu ingin membantu orang lain.

satu frekuensi

karakter baik dan buruk bisa dimiliki semua orang, tapi menyamakan frekuensi, adalah cerita lain.

diluar baik buruk sifat yang kami miliki, ternyata kami berhasil menyamakan frekuensi. sering korslet, iya, tapi nyambungnya lebih sering, sumpah, beneran deh.

kami menghabiskan banyak waktu bersama. dari sepedaan ngga jelas, hunting foto, eksperimen resep, belajar kamera film, mengerjakan paper berjamaah, hingga birthday surprise yang selalu gagal membuat terharu satu sama lain.

yes, short-term friendship. worth a lifetime.

di Jepang saya memiliki banyak teman baik. dari sekian banyak teman baik, dua diantaranya harus pulang tepat setahun setelah saya baru sampai di Jepang. sedih, tapi rasa bahagia saya jauh lebih banyak karena kepulangan mereka adalah tanda peningkatan kualitas mereka sebagai akademia dan sebagai manusia sesungguhnya.

take care kalian!



our paths may change as life goes on. but the bond between friends remains ever strong.

04.10.2015

Tozai Line. perjalanan ke Tokyo. sendirian.

photo credit: dokumentasi pribadi dan jepretan mas didi

yang dulu langsung bilang. tentang penghubung dan tembok.

Pagi ini saya, Mao, Tateishi, dan Matsushita berkumpul di lab dari jam 9 pagi untuk berdiskusi. Kami berdiskusi panjang tentang rencana presentasi kami Rabu depan. Di tengah diskusi, seorang teman lain yang bernama Hirano menghampiri meja kami dan menepuk bahu Tateishi..

Otanjyoubi omedetou Tateishi-kun,”¬†yang artinya adalah “Selamat ulang tahun, Tateishi”

Tateishi terlihat bahagia karena tiba-tiba dihampiri oleh Hirano dan mendapatkan ucapan selamat ulang tahun secara langsung. Saya ikut mengucapkan selamat kepada Tateishi dan tiba-tiba teringat tentang satu hal “Iya, apapun kalau bilang langsung terasa lebih melegakan dan menyenangkan ya”

Hal yang sepele: langsung bilang

Saya akhir-akhir ini terpesona dengan fenomena like dan post di beberapa sosial media.

Ketika satu teman berulang tahun, mendapat musibah, atau mendapatkan penghargaan, banyak diantara kita yang memilih untuk mengucapkan di dunia maya dengan cara memposting foto atau tulisan ucapan di sosial media.
Tidak hanya berlaku untuk teman, bahkan kepada teman dekat dan saudara pun kita memilih untuk mengucapkan dan mengungkapkan perasaan kita tentang mereka di sosial media, yang berlanjut dengan saling komen tanpa henti, atau yang sedih: tidak ada komen-mengkomen sama sekali.

Ada tiga hal yang saya ingat tentang langsung bilang
1
Saya ingat bagaimana dulu dengan excited saya mengantar undangan ulang tahun saya kepada teman-teman dan tetangga-tetangga saya satu persatu, secara personal. Saya dan mama saya mencetak undangan di atas kertas dengan Wordart yang dulu sedang sangat ngehits di Microsoft Word. Saya menanti hari ulang tahun saya dengan rasa bahagia yang meluap karena saya membayangkan bagaimana saya akan bertemu banyak orang, membagi kebahagiaan hari ulang tahun saya dengan mereka semua.
2
Kemudian ketika pengumuman kelulusan SMP, saya dengan telaten menelpon semua teman dengan menggunakan telepon rumah dan menanyakan bagaimana nilai yang mereka dapatkan dan bagaimana rencana selanjutnya untuk pemilihan SMA. Perbincangan dua arah, tanpa pihak ketiga, terasa sangat hangat dan melegakan, ketika itu.
3
Pun sama dengan ketika saya ingat bahwa dulu, untuk memastikan bahwa keadaan teman saya baik-baik saja ketika ibunya meninggal, saya tidak punya pilihan lain selain ke rumahnya, mengetuk pintu kamarnya, dan memeluknya dengan erat. Dia hanya memiliki telepon rumah dan dia hanya ingat nomor telpon rumah saya saat itu.
Interaksi hangat ketika hanya ada dua pihak, tanpa pihak ketiga adalah priceless.

Tentang interaksi: yang dulu langsung bilang

Sosial media kini menjadi penghubung sekaligus menjadi tembok. Sebagian dari kita merasa dengan adanya sosial media, semua adalah tentang typing¬†dan send. Ketika itu pula, semua terasa begitu instan dan cepat. Membuat janji dan membatalkan janji hanyalah tentang mengetik “yuk” dan “sorry” di LINE atau messenger lain sebagai media. Sama halnya menyatakan sayang dan benci, tidak dapat diukur dari bagaimana dia menulisnya di sosial media maupun messenger. Maka siapa yang tahu bagaimana isi hati satu sama lain yang sebenarnya.
Itulah kenapa, selalu ada hal-hal yang intangible dan irreplaceable, meski sepele: menyapa teman dengan sepenuh hati, makan siang dengan teman tanpa melihat HP, mengucapkan selamat ulang tahun ataupun bela sungkawa secara langsung, dan tepukan bahu “kamu pasti bisa!” secara langsung.

Mari menggalakkan gerakan langsung bilang, karena lagi-lagi, tidak semua bisa diketik

*saya berada diantara empat teman lab yang merencanakan pesta minum sake nanti tanggal 19 Juni dan bertepatan dengan hari kedua saya menjalankan Ramadhan nanti.. kali ini saya akan mencoba berkata “Sorry I can’t join” secara langsung daripada mengetik “Sorry I can’t join” di grup chat LINE.